Musim 2025-26 mungkin menjadi bukti nyata bahwa Premier League tidak lagi didominasi segelintir tim. Data statistik menunjukkan jarak antara tim papan atas dan papan bawah menyusut drastis, menjadi yang terkecil dalam 23 tahun terakhir. Ini bukan sekadar euforia sesaat, melainkan sinyal bahwa persaingan di liga paling bergengsi di Inggris itu memasuki era baru yang lebih sengit.

Dilansir dari BBC Sport, gap antara empat besar dan tiga terbawah musim lalu hanya 26 poin, turun drastis dari 44 poin pada musim 2024-25. Jarak ini adalah yang terkecil sejak musim 2002-03. Artinya, tim-tim kelas menengah kini mampu bersaing lebih dekat dengan para elit, sementara tim papan bawah tidak lagi mudah tertinggal jauh.

Fenomena ini terlihat jelas dari perburuan tiket Eropa. Aston Villa berhasil lolos ke Liga Champions meski mengumpulkan poin lebih sedikit dibanding musim sebelumnya saat finis ketujuh. Liverpool yang finis kelima dengan 60 poin, justru mendapat jatah tiket Champions League. Jumlah poin itu adalah yang terendah untuk posisi kelima dalam 19 tahun terakhir.

Bournemouth dan Sunderland pun memanfaatkan peluang ini. Bournemouth untuk pertama kalinya dalam sejarah lolos ke kompetisi Eropa, sementara Sunderland kembali merasakan atmosfer Eropa setelah lebih dari setengah abad. Ini menunjukkan bahwa ambang batas untuk bersaing di papan atas semakin rendah, tetapi justru membuat liga semakin menarik.

Di sisi lain, tim-tim papan bawah juga menunjukkan peningkatan. Everton yang finis ke-13 mengumpulkan poin terbanyak untuk posisi tersebut sejak pergantian milenium. West Ham yang terdegradasi di posisi ke-18, sebenarnya mencatatkan poin tertinggi untuk tim juru kunci sejak 2010-11. Total 13 dari 20 tim musim lalu mengumpulkan antara 40 hingga 60 poin, jumlah terbanyak sejak 2003-04.

Pertanyaannya, apakah ini karena kualitas tim papan bawah meningkat atau justru tim papan atas menurun? Beberapa pihak menilai kebijakan transfer yang cerdas dari klub-klub seperti Brighton dan Brentford menjadi kunci. Namun, fakta bahwa Sunderland yang baru promosi mampu finis di atas 13 tim lain musim lalu, memunculkan spekulasi bahwa level kompetisi secara keseluruhan mungkin sedang menurun.

Terlepas dari itu, musim 2026-27 akan menjadi ujian. Akan menarik untuk melihat apakah Bournemouth, Brighton, dan Sunderland yang kini sibuk dengan jadwal Eropa mampu mempertahankan performa, sementara Chelsea, Tottenham, dan Newcastle yang tidak bermain di Eropa justru bangkit. Satu hal yang pasti, persaingan di Premier League musim ini diprediksi akan semakin ketat dan tidak terduga.