Jose Mourinho kembali ke Real Madrid setelah 13 tahun meninggalkan Santiago Bernabeu. Kehadirannya kali ini langsung memicu pertanyaan besar: apakah Mourinho yang sekarang masih mampu membawa Los Blancos kembali ke puncak kejayaan, atau justru hanya menjadi taruhan berisiko dari presiden Florentino Perez? Pasalnya, Madrid dua musim beruntun tanpa trofi—sebuah 'puasa' yang terasa asing bagi klub sebesar mereka.

Keputusan Perez memanggil kembali pelatih berusia 63 tahun itu dinilai terinspirasi oleh suksesnya Carlo Ancelotti pada periode kedua di Bernabeu. Pengamat sepak bola Spanyol, Eduardo Alvarez, menyebut Ancelotti juga datang dalam kondisi tidak di puncak karier saat meninggalkan Everton, tetapi kemudian sukses memenangkan Liga Champions. "Mourinho masuk dalam kategori Real Madrid bukan klub manajer, melainkan klub pemain. Meski ia manajer yang sangat menonjol, cara manajemennya tidak terlalu intens secara taktik, tetapi lebih intens ke pemain, dan itulah yang saya yakini dibutuhkan Florentino," ujarnya kepada BBC Sport.

Namun, tidak semua pihak yakin pendekatan lama Mourinho masih relevan. Ramon Calderon, presiden Real Madrid periode 2006-2009, menyambut baik penunjukan ini tetapi mengingatkan bahwa Real Madrid saat ini berbeda. "Dia perlu mengubah perilaku dan sikap para pemain. Saat di sini 13 tahun lalu, dia banyak protagonis, sering menyalahkan orang lain atas kekalahan. Kini dia harus mendapatkan rasa hormat dan kepercayaan pemain dengan persuasi, bukan paksaan," katanya.

Pertanyaan apakah Mourinho berubah juga mengemuka di Portugal, tempatnya menangani Benfica musim lalu. Jurnalis Portugal, Duarte Monteiro, menilai kepribadian Mourinho tidak berubah, tetapi dunia yang berubah. "Pemain muda sekarang, jurnalis, dan lingkungannya berbeda. Tidak ada keterbukaan untuk menyambutnya seperti 20-25 tahun lalu," ujarnya. Monteiro juga menyoroti gaya bermain Benfica di bawah Mourinho yang "tidak terlalu seksi" dan ada momen di mana ia agresif kepada sekelompok pemain di depan publik.

Di sisi lain, ada yang percaya Mourinho masih punya sentuhan ajaib. Robert Huth, mantan bek Chelsea yang merasakan langsung didikan Mourinho, menyebut mantan pelatihnya itu "keras tapi adil". "Dia punya pengetahuan luar biasa tentang sepak bola. Dia bisa mempersatukan skuad dan meyakinkan semua pemain untuk satu tujuan. Jude Bellingham akan betah dan berkembang di bawahnya," kata Huth. Ia juga menilai Bellingham adalah tipe pemain yang memberikan segalanya di setiap laga, sesuatu yang sangat disukai Mourinho.

Namun, tantangan terbesar justru ada di lini depan: mengelola ego Kylian Mbappe dan Vinicius Jr. Calderon mengingatkan bahwa ruang ganti yang penuh bintang bisa menjadi masalah jika tidak dikelola dengan baik. "Dia punya skuad fantastis, tetapi bisa jadi masalah jika tidak dikelola dengan benar," ujarnya. Sementara itu, Monteiro menambahkan bahwa versi Mourinho di Porto—yang penuh ambisi untuk membuktikan diri—tidak mungkin terulang. "Dulu dia perlu membuktikan sesuatu. Sekarang dia hanya perlu membuktikan pada dirinya sendiri, dan kadang itu tidak baik," pungkasnya.