Skandal Spygate yang mendera Southampton ternyata menyisakan cerita berat bagi petinggi klub. Dilansir dari BBC Sport, group technical director Johannes Spors mengakui bahwa kasus spionase tersebut sempat membuatnya berada dalam situasi yang sangat dilematis saat merancang skuad untuk mengarungi musim baru di kompetisi Championship.
Badai mulai menerjang pada Mei lalu ketika klub harus menerima kenyataan pahit, denda empat poin dan didepak dari babak play-off setelah terbukti memata-matahi tiga klub rival. Situasi semakin runyam bagi Tonda Eckert selaku pelatih kepala, di mana masa depannya digantung akibat investigasi lanjutan dari Federasi Sepak Bola Inggris (FA) yang berpotensi menjatuhkan sanksi berat pemecatan.
Namun, pemilik klub Dragan Solak bersama jajaran direksi memilih untuk memberikan kesempatan kedua kepada juru taktik asal Jerman tersebut. Keputusan bulat diambil untuk tetap mendukung sang pelatih meski bayang-bayang sanksi personal terus menghantui sepanjang bursa transfer musim panas lalu. Spors menyebut bahwa perencanaan tim berjalan dalam level ketidakpastian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya sepanjang kariernya.
Titik terang akhirnya muncul pada awal Oktober ketika FA memutuskan untuk melayangkan denda sebesar £28.000 atau sekitar Rp560 Juta serta skorsing enam minggu yang hukumannya ditangguhkan hingga akhir musim depan. Keputusan ini menyelamatkan karier Eckert dan memberikan ketenangan bagi ruang ganti tim yang tengah berjuang mengembalikan mentalitas bertanding mereka di kasta kedua sepak bola Inggris.
Di balik ketegangan tersebut, hubungan personal yang telah terjalin selama hampir satu dekade antara Spors dan Eckert menjadi fondasi kuat penyelamatan karier sang pelatih. Kini, di tengah performa Southampton yang mulai membaik dan bertengger di papan atas klasemen sementara, ujian berat di awal musim terbukti mampu diselesaikan lewat loyalitas dan dukungan penuh manajemen klub.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang