Badai kritik menerpa kubu Celtic setelah mengalami kekalahan ketiganya secara beruntun di kancah Liga Europa musim ini. Hasil minor saat menghadapi Celta Vigo semakin menegaskan jurang pemisah yang lebar antara dominasi domestik mereka dengan performa melempem di level kontinental. Padahal, atmosfer positif sempat menyelimuti ruang ganti menyusul kemenangan telak 7-1 atas Hearts di kompetisi domestik akhir pekan lalu.

Harapan sempat membuncah ketika Mika Baur membawa wakil Skotlandia itu unggul terlebih dahulu pada menit ke-47. Namun, alih-alih mengunci momentum, skuad asuhan Martin O'Neill justru tampil pasif dan kedodoran setelah Javi Rodriguez mencetak dua gol kilat dalam kurun waktu tiga menit untuk membalikkan keadaan menjadi 2-1 bagi tim tamu.

Selepas pertandingan, O'Neill menyoroti sejumlah keputusan wasit dan momen-momen marjinal yang merugikan timnya, termasuk insiden pelanggaran yang luput sebelum gol peny equalizer lawan serta sundulan Liam Scales yang hanya tipis membentur mistar gawang. Meski demikian, pandangan berbeda disampaikan oleh para pengamat sepak bola Skotlandia yang menilai bahwa masalah utama The Hoops jauh lebih mendasar daripada sekadar ketidakberuntungan di atas lapangan hijau.

Eks penyerang tim nasional Skotlandia, James McFadden, melontarkan kritik pedas terhadap mentalitas bertanding tim asuhan O'Neill tersebut. Menurutnya, keruntuhan mental ketika menghadapi tekanan di Eropa sudah menjadi pola yang terlalu sering berulang, di mana para pemain mendadak kehilangan kepercayaan diri dan gagal keluar dari tekanan lawan begitu situasi berbalik menjadi pelik.

Situasi pelik ini menempatkan Celtic di posisi krusial jelang laga kandang menjamu Besiktas pada 5 November mendatang. Kegagalan memperbaiki performa kolektif dan mengatasi kelemahan mental di panggung Eropa dipastikan bakal membuat ambisi mereka untuk melangkah jauh di kompetisi UEFA semakin sulit diwujudkan.